Galeri foto dan video komunitas penambang di Kota Sawahlunto

Cerita dari komunitas penambang skala kecil saat pandemi COVID-19 di Kota Sawahlunto

Komunitas penambang batu bara dan emas skala kecil tersebar di Sawahlunto, sebuah kota di Provinsi Sumatera Barat yang dibangun pada pertengahan abad ke-19 saat masa penjajahan Hindia Belanda. Kota ini merupakan salah satu kota tambang batubara tertua di Asia Tenggara.

Di Kota Sawahlunto, selama bertahun-tahun perempuan memiliki peran aktif menjadi penambang batubara skala kecil informal (dalam bahasa lokal disebut ‘pengepul atau pemulung baro’). Para penambang perempuan umumnya bekerja mengumpulkan limbah batubara di wilayah tambang terbuka (open pit) sedangkan suami mereka bekerja di wilayah tambang dalam (underground pit). Para penambang perempuan mengumpulkan batubara ke dalam karung berukuran 20-25 kg dan menjualnya kepada pengumpul dengan harga berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000 (USD 0.7 – 1.5).

Pandemi dan perubahan regulasi penutupan tambang terbuka membuat perempuan penambang kehilangan pekerjaan utama mereka. Para penambang perempuan melihat ada peluang membangun kewirausahaan seperti usaha mikro dan kecil membuat keripik sebagai alternatif mata pencaharian di masa pandemi.

Artisanal and small-scale coal and gold mining communities are spread in Sawahlunto, a city in West Sumatera Province that was established in the middle of the 19th century during the Dutch East Indies colonization period. This city is one of the oldest coal mine cities in South East Asia.

In Sawahlunto, for years, women have an active role as informal artisanal and small-scale coal miners (in the local language, referred to as ‘pengepul or pemulung baro’). Female miners generally collect coal waste in the open pit area, whereas their husband works in the underground pit area. Female miners collect coal in a 20-25 kg sack and sell it to a collector at a price ranging between Rp 10,000 and Rp 15,000 (USD 0.7 – 1.5).

The pandemic and the amendment to the regulation on closure of open pits has caused the female miners to lose their main livelihood. Female miners see that there is an opportunity to start a business of small and micro enterprises by cooking and selling chips as an alternative livelihood during the pandemic period.

Perjuangan dan ketangguhan komunitas penambang dalam foto dan video

Photos and Videos of the Struggle and Resilience of Miner Communities

Foto dan video ini adalah hasil karya para penambang skala kecil yang telah mendapat pelatihan bercerita melalui foto dan video (Photovoice). Dokumentasi ini memperlihatkan kehidupan dan perjuangan mereka bertahan hidup saat pandemi COVID-19. Foto dan video ini menjadi media untuk beraspirasi dan berekspresi bagi perempuan dan anak muda komunitas penambang skala kecil.

These photos and videos are the work of the artisanal and small-scale mining (ASM) communities who have received Photovoice training. These documentations show their life and struggle to survive during the COVID-19 pandemic. These photos and videos serve as a media of aspiration and expression for women and youths of ASM communities.

Pelatihan bercerita melalui foto dan video (Photovoice)

Training in Story Telling Through Photos and Videos (Photovoice)

Lanjutkan ke galeri foto dan video penambang skala kecil lainnya:

Visit the photo and video gallery of small-scale miners in the following location:

Kunjungi galeri foto dan video penambang skala kecil di lokasi berikut:

Visit the photo and video gallery of small-scale miners in the following location: